Home » , » Antara Soe Hok Gie Dan Film 5 Cm

Antara Soe Hok Gie Dan Film 5 Cm

Seiring dimulainya musim pendakian tahun ini, pengrusakan ekosistem gunung juga semakin parah ditambah banyaknya pendaki - pendaki karbitan yang mengatasnamakan Pecinta Alam. Padahal esensi dari Pecinta alam itu sendiri mereka tidak memahami.


www.belantaraindonesia.org

Mereka hanya hanya sekedar latah akibat menjadi korban vandalisme sebuah tontonan yang mereka anggap hal itu sebagai panutan. Berbeda dengan generasi dahulu seperti zamannya Soe Hok Gie, mereka melakukan kegiatan alam bebas memang benar - benar didasari dari hati yang mencintai alam ini, tidak hanya sekedar ikut - ikutan trend.

Sebagai contoh pendaki Gunung Semeru, kerusakan ekosistem Semeru secara masif saat ini terjadi akibat vandalisme tontonan, berbeda halnya dengan zaman Soe Hok Gie Dulu dimana hakikat Pecinta alam tidak pernah terlupa dalam mereka berkegiatan di alam.

Mari kita bandingkan generasi siapa yang pantas dijadikan panutan, antara Soe Hok Gie dan 5 Cm, sekaligus untuk menjadi bahan renungan untuk Anda sahabat alam semua.

Jumat, 12 Desember 1969, hari masih pagi di Stasiun Gambir, Jakarta. Keceriaan melingkupi Tim Mapala Fakultas Sastra Universitas Indonesia yang bersiap bergerak ke Surabaya. Ada Soe Hok Gie, Herman O Lantang, Abdurachman, dan Anton Wijana. Ikut bergabung juga redaktur koran Sinar Harapan Aristides Katopo. Selain itu deretan para 'junior' Rudi Badil, Idhan Dhanvantari Lubis dan Freddy Lodewijk Lasut.

Mereka berdelapan menaiki gerbong barang. Bertujuan mendaki Gunung Semeru di Jawa Timur. Sebuah ekspedisi besar untuk Mapala FS-UI ketika itu.

Dalam buku Soe Hok Gie yang diterbitkan Kepustakaan Populer Gramedia, Rudi Badil menceritakan perjalanan tersebut. Jangan bayangkan pecinta alam pada masa itu seperti sekarang. Dengan carrier canggih yang bisa disetel sesuai rangka tubuh, GPS, tenda dome empat musim atau kompor trangia berbahan bakar spirtus yang antiangin.

Saat itu ransel para pendaki gunung masih menggunakan milik ABRI. Herman Lantang menggunakan peta peninggalan zaman Belanda. Badil menyebut kompor minyak tanah mereka seperti kompor milik penjual tahu goreng.

Semeru tahun 1969 tentu sangat indah. Badil menceritakan Danau Ranu Kumbolo masih dipenuhi burung Belibis Liar. Dia pun sempat melihat seekor macan tutul yang muncul di remang cahaya pagi. Kini tak ada satu ekor pun Belibis di Ranu Kumbolo. Cerita soal macan masih ada, tapi tak ada seorang pun pendaki yang pernah melihat sosoknya.

Perjalanan indah Gie cs akhirnya berujung duka. Petaka itu terjadi 16 Desember 1969, setelah summit atack, Gie dan Idhan Lubis terkena gas beracun. Mereka kejang sebelum akhirnya menghembuskan nafas terakhir. Persis satu hari sebelum hari ulang tahun Gie ke - 27.

Butuh delapan hari untuk mengevakuasi jenazah keduanya dari Puncak Semeru. Kematian dua pendaki itu menjadi duka nasional.

Gie meninggal di puncak Semeru, tetapi semangatnya selalu menjadi inspirasi para pendaki untuk mengunjungi Semeru. 

Soe Hok Gie : "Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hpokrasi dan slogan, seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal akan objek - objeknya, mencintai tanah air Indonesia dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dengan dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat karena itulah kami naik gunung".

5 Cm : "Biarkan keyakinan kamu, 5 centimeter menggantung mengambang di depan kening kamu. Dan sehabis itu yang kamu perlu cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya serta mulut yang akan selalu berdoa"

Setelah 40 tahun tahun berlalu perjuangan Soe Hok Gie dan Idhan Lubis lah yang wajib kita contoh, dan sayang akhirnya kini muncul "pahlawan" baru Semeru dengan sosok Genta yang berwibawa, Riani yang pintar, Arial yang sporty, Zafran yang puitis dan Ian yang kocak. Hadir pula Dinda, adik Arial yang cantik dan polos.

5 Cm Meledak, kini Semeru bukan hanya milik pendaki gunung. Anak - anak SMA Alay dengan sepatu basket pun bermimpi mendaki puncaknya.

Mahasiswi lebay dengan setelan yang lebih cocok ke mall terengah - engah menapaki Arcopodo.

Kini Ranu Kumbolo sesak oleh mereka kaum alay dan lebay korban vandalisme tontonan yang ingin merasakan momen saat Genta menyatakan cinta pada Riani. Merasakan apa yang dirasakan 5 sahabat itu saat mendaki Semeru...!!!

4 komentar:

  1. Smoga pendaki di era skrng lebih mengerti dan lebih menghargai arti khidupan dari berbagai pengalaman saat pendakian nya.

    BalasHapus
  2. Serba salah.. yang ada..
    Sejak kecil kita diajarkan utk mengenal alam bebas..
    Tidak semua masa kecil mendapatkan kesempatan..
    Era globalisasi zaman massa modern..
    Menambahi catatan merah besar utk mengenal alam..
    Dari peralatan canggih sampai sandal butut terfasilitasi dalam mengenal alam..
    Sosial media yg begitu boming.. masyarakat merespon adanya alam yg begitu indah..
    Kini bukan lagi memperdebatkan kerusakan ekosistem..
    Hanya pemerintah dan kita yg bisa membuat kenyamanan ekosistem menjadi lestari..
    Jika kita belajar dari negara tetangga..
    Ada kok gunung yg dibuat secara canggih utk di nikmatinya keindahan alamnya.. kita harus mencontoh mereka..

    Apa yang kita dapat disitulah kita menuai..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semua akan kembali pada diri kita sendiri pada intinya.
      Kita ajak teman teman yang baru merasakan ingin menikmati alam indah ini dengan menjaga kelestarian alam,
      semua ini perlu pendampingan yang tepat pastinya dari pemerintah, pengelola dan semua pihak.
      Semoga tetap Lestari

      Hapus